Hampir setiap kali datang waktu shalat pak haji melaksanakannya di mesjid walaupun tanpa makmum. Kejadian ini aku amati sudah berlangsung hampir satu bulan. Usut punya usut ternyata pa haji dijauhi oleh warga masyarakat sekitar.
Dulu dia adalah seorang imam mesjid. Walaupun tidak mempunyai latar belakang pendidikan pesantren, tapi pa haji dipercaya menjadi imam mesjid dan mengurus semua keperluan mesjid. Ia jaga amanah itu selama hampir 20 tahun.
Keadaan pa haji berubah seratus delapan puluh derajat ketika ada beberapa warga yang meminta sang imam diganti oleh anak salah seorang warga yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan di pondok pesantren dan kembali ke kampung tersebut. Sebenarnya sekembalinya ke kampung, sang ustad muda sering diminta oleh pa haji untuk menjadi imam shalat, tapi dengan bahasa yang sopan si ustad selalu menolak dan meminta pa haji yang tetap menjadi imam shalat. Penolakan si ustad membuat geram beberapa warga dan akhirnya salah seorang warga yang benama pa Hakim datang menemui pa haji.
“Maaf pa haji, semua warga sudah sejak lama ingin ustad Fikar yang menjadi imam di mesjid kampung kita menggantikan pa haji, dan sebaiknya pa haji menyerahkan urusan mesjid kepada saya”
“Baiklah, kalau memang itu sudah jadi keinginan semua warga, saya akan menyerahkan tongkat imam shalat ini kepada ustad Fikar dan urusan mesjid kepada pa Hakim” Dengan berjiwa besar pa haji menyerahkan amanah itu kepada ustad Fikar dan Pa Hakim.
Sayang nya sehari setelah pertemuan 3 orang itu, beredar isu di masyarakat bahwa pa haji telah menyelewengkan uang mesjid dan warga percaya. Pak haji dijauhi oleh warga kampung.
Jangankan untuk diimami, warga malah enggan mengajak pa haji shalat berjamaah dan pa haji dianggap najis oleh warga kampung.
Jika pa haji sedang melaksanakan shalat di mesjid, warga tidak langsung bergabung berjamaah, melainkan menunggu sampai pa haji selesai shalat. Sebagai manusia biasa, pa haji merasa sangat sedih menerima perlakuan warga.
Yang paling membuat pa haji dan keluarganya sedih adalah ketika malam idul fitri tiba. Di malam itu gema takbir bersahutan di seluruh mesjid, tapi di mesjid kampung ini hanya terdengar suara takbir dari seorang kakek yang suaranyapun sudah sangat lemah ditemani anak-anak kecil yang asik berlarian di seputaran mesjid. Tanpa lelah pa haji terus menggemakan takbir dan berharap ada warga yang menemaninya, sampai tengah malam belum ada juga warga yang datang. Pa haji memutuskan pulang karena sudah terserang kantuk yang sangat hebat.
Pa haji disambut sang istri yang juga sedang khusyu menggemakan suara takbir di rumah.
“Ibu dengar tadi bapak takbirannya sendirian saja di mesjid, memang ga ada bapak-bapak lain yang datang ke mesjid?”
“Ga ada bu, mungkin mereka masih sibuk mempersiapkan buat lebaran besok”
Setelah pa haji meninggalkan mesjid, banyak warga berdatangan ke mesjid untuk menggemakan takbiran. Suasana mesjid sangat meriah berbanding terbalik dengan ketika pa haji yang bertakbiran, mesjid sangat sepi kala itu.Di hari raya lebaran pa haji merasa senang karena lebih dimanusiakan oleh warga, karena di momen ini semua saling memaafkan kesalahan (walaupun mungkin hanya tampilan luarnya saja). Pak haji ikut berjamaah melaksanakan shalat ied bersama warga kampung dan menyimak dengan khusyu khutbah yang disampaikan oleh khatib.
Pasca idul fitri terjadi kehebohan di kampung, ketika warga menanyakan keberadaan uang hasil sumbangan warga yang diperuntukkan merenovasi mesjid kepada pak Hakim selaku bendahara dan pengurus mesjid. Ternyata uang tersebut tidak ada, menurut pengakuan pak Hakim uang tersebut dipinjam dulu untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Warga tidak bisa terima tindakan pa Hakim yang dengan seenaknya menggunakan uang amanah dari warga yang diperuntukkan merenovasi mesjid. Warga akhirnya sadar bahwa selama ini mereka jadi korban isu yang dihembuskan pak Hakim, tapi ternyata pak Hakim sendiri yang sudah menyelewengkan uang itu. Warga meminta maaf kepada pa haji atas perlakuan mereka selama ini dan kembali meminta kesediaan pa haji untuk menjadi pengurus mesjid. Alhamdulilah pak Haji bersedia menerima kembali amanah itu.
Pak Haji dan keluarga merasa senang karena akhirnya Tuhan menunjukkan kebenaran yang sesungguhnya.


19:19
Cucu
Posted in:

















